Saturday, 4 June 2011

Menuju Hari Yang Lebih Bermakna

Bismillah.

Alhamdulillah masih diberi kesempatan bertemu Rejab. Moga-moga kita semua tergolong dalam golongan hambaNya yang bersyukur. InsyaAllah.

Seperti biasa, matahari terbit di waktu pagi lalu terbenam di senja hari, dan sehari pun berlalu, namun ada pertanyaan baru yang patut untuk kita renungi, "Apa yang kita kerjakan untuk mengisi hari itu?" Telah berapa banyak hari yang berlalu, telah berapa banyak umur telah kita lepasi, namun sedikit diantara kita yang menghitung diri, menjinakkan nafsu dengan muhasabah. Bahkan kebanyakan manusia membiarkan hari-harinya berlalu, sedangkan dia tenggelam di dalam lautan kelalaian dan gelombang penuh angan-angan. Ketika fajar menyingsing, ramai manusia yang menyambut hari mereka dengan niat yang tidak lurus. Setelah seharian dilalui, ketika malam menjelang, mereka kembali menuju tilam empok mereka dengan niat yang tiada berbeza pula. Teringat akan sebuah ungkapan dimana seorang bijak pandai ditanya,

" Dengan niat apakah seseorang bangun dari tempat tidurnya? "

Maka dia pun menjawab, "Jangan kau tanya tentang bangunnya dulu, sehingga diketahui bagaimana dia itu tidur. Barangsiapa yang tidak tahu bagaimana dia tidur, maka tidak tahu bagaimana dia bangun. "

Wahai saudaraku, perhatikan matahari yang terbit dan tenggelam. Sudahkah kau renungkan harimu yang kau lalui? Tanyakan! Apa yang sudah kupersembahkan untuk kebaikan, apakah yang kuperbuat ini untuk menyambut hari-hariku? Amat ramai manusia yang tidak memiliki perhatian terhadap berlalunya waktu, padahal nafasmu wahai anak Adam, adalah sesuatu yang dihitung dan tertulis.

Firman Allah yang mafhumnya,

"Dan Kitab-kitab Amal juga tetap akan dibentangkan, maka engkau akan melihat orang-orang yang berdosa itu, merasa takut akan apa yang tersurat di dalamnya dan mereka akan berkata: Aduhai celakanya kami, mengapa kitab ini demikian keadaannya? Ia tidak meninggalkan yang kecil atau yang besar, melainkan semua dihitungnya dan mereka dapati segala yang mereka kerjakan itu sedia (tertulis di dalamnya) dan (ingatlah) Tuhanmu tidak berlaku zalim kepada seseorang pun."

(Al-Kahfi : 49)

Dan Firman Allah yang mafhumnya,

"Padahal sesungguhnya, ada malaikat-malaikat yang menjaga dan mengawas segala bawaan kamu. (Mereka adalah makhluk) yang mulia (di sisi Allah), lagi ditugaskan menulis (amal-amal kamu). Mereka mengetahui apa yang kamu lakukan. "

(Al-Infitaar : 10 – 12)

Nafas-nafas terhitung, amal-amal tertulis! Andaikan orang-orang yang lalai mahu memikirkan ini semua, tentu mereka akan berhati-hati terhadap diri mereka dan akan manahan diri dari jalan yang menyimpang. Namun amat sedikit manusia yang mendapat taufik, dan amat sedikit di antara mereka yang ingin mengetahui jalan yang lurus.

Pintu kebaikan amatlah banyak tidak terbilang. Apa yang tersebut di atas hanya sebagai peringatan buat diriku dan kalian. Orang yang menjadikan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan, kebaikan dan ketaatan, maka dialah orang yang telah mendapatkan taufik.

Wallahua'lam.

Wednesday, 18 May 2011

Maher Zain - Freedom



"Freedom"

Gathered here with my family
My neighbours and my friends
Standing firm together against oppression holding hands
It doesn't matter where you're from
Or if you're young, old, women or man
We're here for the same reason; we want to take back our land

Oh God thank you..
For giving us the strength to hold on
And now we're here together

Calling you for freedom, freedom
We know you can hear our call, ooh oh
We're calling for freedom, fighting for freedom
We know you won’t let us fall, ooh
We know you're here with us

No more being prisoners in our homes
No more being afraid to talk
Our dream is just to be free, just to be free
Now when we've taking our first step
Towards a life of complete freedom
We can see our dream getting closer and closer, we're almost there

Oh God thank you..
For giving us the strength to hold on
And now we're here together

Calling you for freedom, freedom
We know you can hear our call, ooh oh
We're calling for freedom, fighting for freedom
We know you won’t let us fall, ooh

I can feel the pride in the air
And it makes me strong to see everyone
Standing together holding hands in unity
Shouting out loud demanding their right for freedom
...This is it and we're not backing of
Oh God we know you hear our call

And we're calling you for freedom, freedom
We know you can hear our call, ooh oh
We're calling for freedom, fighting for freedom
We know you won’t let us fall, ooh

We're calling you for freedom, freedom
We know you can hear our call, ooh oh
We're calling for freedom, fighting for freedom
We know you won’t let us fall, ooh
We know you're here with us

Tuesday, 10 May 2011

Semanis Madu

Bismillah

Jangan kata-kata semanis madu, tapi perlakuan sepahit racun. Iringilah kemanisan

kata dengan keindahan perlakuan.


Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abu bakar r.a, Umar r.a dan Uthman r.a bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a, isterinya Saidatina Fatimah r.ha. puteri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).


Abu bakar r.a berkata, "Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".


Umar r.a berkata, "Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Uthman r.a berkata, "Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


'Ali r.a berkata, "Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Fatimah r.ha berkata, "Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang berpurdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Rasulullah SAW berkata, "Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Malaikat Jibril AS berkata, "Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Allah SWT berfirman yang mafhumnya, " SyurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat syurgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju syurgaKu adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Wallahua’lam.